Sebuah renungan untuk 07
Sunday, December 31st, 2006Ini sebuah puisi yang gw bacakan pas New Year’s eve (yep, baca puisi lagi, cuman kali ini less dramatic n heroic). Puisi ini karya WS Rendra. Menurut gw puisi ini bagus untuk memulai tahun baru dengan melihat kembali apa yang pernah kita lakukan
Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja
WS Rendra
Bisa dijadikan renungan untuk semua
Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku, bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipanNya,
bahwa rumahku hanya titipanNya,
bahwa hartaku hanya titipanNya,
bahwa putraku hanya titipanNya,
tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya, mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milikNya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali olehNya?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka
kusebut dengan panggilan apa saja yang melukiskan bahwa itu adalak derita
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,a aku ingin lebih banyak harta,ingin lebih banyak uang, lebih banyak popularitas, dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan, seolah semua "derita" adalah hukuman bagiku.
Seolah keadilan dan kasihNya harus berjalan seperti matematika: aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauihku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, bukan kekasih.
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku", dan menolak keputusanNya yang tidak sesuai keinginanku
Gusti, padahal tiap kali kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah …