Banjir Jakarta.. Jakarta is simply complicated
Emang kayanya cerita ini dah agak2 basi. Tp saya baru baca sebuah artikel online (lupa artikelnya boleh nemu dimana, dah keburu keluar).
Saya mengutip kata2 Pak Sutiyoso:"Yang terjadi kali ini adalah banjir siklus lima tahunan." Saya pun mulai bertanya2, apa benar ini siklus banjir lima tahun. Saya pun memeriksa statistik Indonesia dan ternyata tidak ada. Apa betul ini disebabkan sebuah siklus yang terjadi setiap lima tahun?
Kalo pun ini merupakan siklus lima tahun, bukankah seharusnya pemerintah mampu mengambil tindakan pencegahan untuk meminimalisir apa yang akan terjadi. Mengurangi kerugian yang dialami masyarakat Jakarta dan sekitarnya. Or at least memberitahukan kepada masyarakat yang daerahnya berpotensi terkena banjir. Tapi yang membuat saya terheran2, masyarakat yang dirugikan secara materi, psikis maupun sosial, sepertinya diam saja. Tp setelah dipikir2, mungkin juga ini siklus 5 tahunan. Setiap lima tahun akan ada Gubernur baru yang berarti hilangnya penghijauan dan daerah resapan air… tsk tsk tsk. Sudah daerah resapan air makin menghilang, kanal2 yang tidak dirawat, hasilnya ya banjir. Surprise surprise…Next time ada pemilihan Gubernur baru, ayo kita pilih Gubernur yang rumahnya banjir!!
Namun, tampaknya banjir yang melanda ibu kota kita ini tidak menyadarkan para pejabat kita, mulai dari Presiden ke bawah.. Setiap ada bencana banjir yang melanda Jakarta, para pejabat kita yang ‘tercinta’ selalu rapat di ruang berAC yang tentu saja TIDAK BANJIR dan yang mereka lakukan hanyalah berkata this should be done and that should be done.Let’s face it NOTHING IS DONE!!! Setelah rapat mereka akan menginap di tempat yang nyaman yang lagi lagi TIDAK BANJIR dengan alasan agar mereka bisa berpikir dengan nyaman. But are they even thinking AT ALL??? Saya akan berkata jujur, kalo saya sebagai manusia, pulang dari sebuah rapat, saya tidak akan berpikir melainkan langsung tidur. Setelah itu, banjir pun reda, rapat mengenai penanggulangan banjir dan tata ruang kota berhenti dan *jeng jeng* tahun depan BANJIR LAGI!!! Kaget, heran? Seharusnya kita sudah hapal dengan siklus bodoh ini. And we still act surprised.
Seakan2 komen aneh Sutiyoso belum cukup, Bapak Mentri PU Joko Kirmanto yang mengutip Menristek kita "return period kali ini 30 tahun", and adding a little strange twist "Bulan purnama menjadi salah satu penyebab"
Kalo dilihat2 ya, banjir Jakarta lebih kepada moral hazzard bangsa ini. Disintegrasi dan inkompetensi pejabat DKI dan penanggung jawab akhir Gubernur DKI Jakarta. Berapa kali sudah Perda Tata ruang dirubah? Masterplan Djayakarta pas jaman Belanda dulu tampaknya berhasil mengatur pengairan Jakarta, kini diacak2. Dan siapa yang harus membayar derita ini? Warga Jakarta. Para2 pembayar pajar. How ironic!!!
Ketika hari cerah, para ‘pemimpin’ kita melanglang buana bagaikan raja di negeri dongeng yang makmur sentosa, menghambur2kan uang rakyat, salah prioritas,salah penanggulangan, keliru penggunaan.Siapa yang mengurusi kanal? Memberantas daerah peresapan air? Siapa yang menjatuhkan sanksi apabila ada yang membuang sampah sembarangan?Jawabannya? TIDAK ADA!!
Dan sekarang? Gambar2 Jakarta yang tenggelam tidak hanya tampil di stasiun TV lokal, gambar2 tersebut sudah disiarkan LIVE di CNN/BBC/FOX.Sebuah karikatur yang kontras:Jakarta bajir sama seperti kampung Indian di pinggiran Amazone. Ini menggambarkan seolah2 para tidak mampu mengurus kota seperti Jakarta. And what’s next? Lagi2 kita menengadahkan tangan meminta bantuan. Lagi2 utang. Sebuah efek domino yang tak akan pernah selesai diakibatkan beberapa oknum yang benar2 inkompeten!!!
Lantas ini salah siapa?Salah Tuhan atau salah kebobrokan dan ketidakbecusan aparat kita?
Kita yang berada di luar Jakarta hanya dapat berdoa agar masyarakat Jakarta diberi ketabahn menjalani derita ini. Keep the spirit!!